Kamis, 27 Mei 2010

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika: Tetaplah Berlatih Menulis PKM-GT

Bangunlah kemauan yang ada pada diri Anda. Anda berada dalam kondisi dan suasana berlatih. Jangan putus semangat. Menulis dan menulislah. latihan yang telah Anda kerjakan niscaya akan memberikan buah yang nyata. Anda sudah berada dalam suasana berlatih, teruslah berlatih.

Karya Anda ada yang menanti. Jadikanlah latihan yang sudah Anda lakukan sebagai sebuah ajang yang baik, lama semakin lama Anda sudah terbiasa dan bisa menciptakan karya yang baik. Selamat berlatih.

Salamku buat Kelas II c dan II d.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

cerpen

BILIK HATI

Agus Budi Wahyudi

Di mata lelaki, wanita itu ibarat laboratorium. Ramin lelaki. Bermata berkeinginan. Mencoba dan telisik masuk laboratorium. Berdiam aman di situ. Ingin mengecap segala apa adanya. Di mata wanita, lelaki itu ibarat pohon. Pohon berdaun impian. Jenggot dan kumis bagai serakan dedaun dan sengkala penimbul romantika. Marni wanita. Bermata. Ia melihat rimbun impian di dada Ramin.

Ramin lelaki kurus. Kering. Rambut keriting, ceking. Lelaki tidak necis dan tak sedap dipandang oleh mata wanita normal. Marni bermata setengah dewa. Yang suka cinta dan sudah berkali-kali jatuh cinta. Lelaki yang ada di hatinya berubah jadi dewa. Hari ini, beda, Ramin malah bermata setengah dewa dan Marni bermata laboratorium. Ramin dan Marni bersesuka demi diri.

Sehari sebelumnya sudah kenalan. “Dik, Marni...,” bisik Ramin saat pertemuan kedua di Balekambang. Saat itu, embun dan dedaunan masih lengket. Ia ingin Marni duduk seperti embun di daun. Dalam bermesra. Taman ini titik historis cinta. Seekor kijang iri melihat kemesraan. Si kijang ingin melaporkan adegan. Dan apa-apa yang dilihatnya. Kepada siapa?

Keduanya bercinta dan terbaut mesra.

“Ada apa Mas...,” sambut Marni lembut. “Anu Dik, kemarin Mas lagi kerja teringat lho sama wajah Adik,” Ramin lugu menceritakan bayangan Marni yang menggodanya. Menari-nari di bilik hati. “Anu Dik, bisakah Adik mendekat dikit lagi kepadaku,” ia meminta Marni mendekat lagi. Berbahasa isyarat keduanya, iri hati seorang kakek yang menunggu toilet di taman itu. Marni yang sejak tadi menunggu sentuhan seperti dikomando gerak cepat. Marni lalu menggeser menyatukan pantatnya ke tubuh Ramin.

Gelora aura asmara menyelimuti taman. Ikan-ikan tidak tenang di air kolam. Kecipak-kecipuk geraknya. Irama gerak ikan longgar bagai luapan kemesraan. Kedua insan itu lalu padu. Hati ketemu hati sehati. Hati-hati sudah berjalin menjadi satu hati. Embun dan dedaun sepakat untuk mengabadikan dirinya masing-masing. Keadaan ini memberikan cemburu bagi burung yang berkicau. Seakan berontak dan ingin menggantikan posisi.

Sabtu pagi, titik historia cinta, bilik hati saling terisi. Jalinan hati menyatu. Kelembutan padu. Pesona dan mempesonakan berdalih bahwa ini cinta sejati dikabarkan. Marni lupa berapa kekasihnya. Ramin seperti api yang diberi bahan bakar dan dikobarkan. “Yang dulu biarlah berlalu,” batin Marni. ”Yang kini bersemi jadi embun dan dedaun yang bersatu padu”. Taman berarti, arena berbagi. Taman adalah lokasi, bersatu dan memadu. Tempat mempersemai butiran cinta.

Saling rasa sayang dan bergamit kemesraan. “Mas Ami, sayang?” Marni bergairah. “Iya, ada apa?” jawab Ramin lembut. Setelah bersekutu dengan aroma mesra. Marni merencana hari berikutnya. Ramin hilangan kesadaran bahwa Marni adalah gadis yang baru dikenalnya kemarin. Kenikmatan bersama Marni telah direngkunya pagi itu. “Anu, Mas... Bagaimana kalau Minggu besuk jalan-jalan di Slamet Riyadi?” “O... ya... Bisa,” Ramin dengan sigap memberi jawaban. “Oke, dioke!” tegasnya.

Mereka sepakat menikmati hawa segar di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang bebas asap kendaraan. Kesepakatan untuk saling memberi dan saling membagi keabadian rasa cinta.

Marni anak penggede yang kondang di kota tetangga. Tampilannya tidak mencerminkan berlimpah kekayaan. Wajahnya tidak beraura mewah. Ia memang tidak memamerkan harta kekayaan keluarganya. Namun, tubuhnya yang tidak sederhana telah menenggelamkan Ramin. Marni tidak berusaha memiliki Ramin dengan cintanya.

Marni, yaitulah namaku. Ayahku Martono dan ibuku Nilam. Jadi, namaku Marni itu perpaduan dari nama ayah dan ibu. Perpaduan yang tidak bisa dipisahkan. Orang memang memiliki kehendak. Sampai mati, seperti Mimii lan Mintuna kata orang Jawa.

Marni seperti daun. Angin semilir mempermainkan rambutnya di bahu. Harum tubuhnya mengelilingi radius lima meter. Hidung Ramin sudah hafal dengan situasi seperti itu. Indra penciuman Ramin mengetahui bahwa Marni sudah hadir di taman. Marni pun telah mengerti bahwa kehadiran Ramin seperti harapan hatinya. Ramin pemuda yang ulet kerja walaupun konyol. Jika berdua Ramin seringkali menunjukkan aneh. Marni tahu dengan sifat Ramin. Marni manjakan Ramin seperti anak kecil yang diteteki oleh ibunya. Marni lebih berperan sebagai pengasuh dan kekasih. Marni tidak tahu bahwa ayahnya buron, koruptor yang lari ke luar negeri.

“Seperti itu, ya!” Marni berteriak. Ia menyadari bahwa yang telah diperbuat kepada Ramin mendapatkan respon yang positif. Marni memberikan perhatian khusus dan mendapatkan hasil di hatinya.

Ramin merasa yakin memiliki cinta Marni. Kenyakinan itu terpatri ketika Sabtu pagi bertemu. Ramin dengan penuh percaya diri menunggu Marni di Jalan Slamet Riyadi di Minggu pagi. Ia mengenakan pakaian seadanya. Ya memang Ramin tidak memiliki kekayaan yang dihadalkan. Ayah dan Ibu Ramin seorang guru yang sudah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan kurang lebih tiga puluh tahun. Kedua orangtuanya belum tersentuh program sertifikasi. Bahkan, menurutnya keduanya tidak akan mengecap program itu. Karena, terburu pensiun. Ramin mengetahui bahwa uang pensiun tidak cukup untuk mengekolahkannya. Ramin lebih memilih kursus dan bekerja untuk menghadapi masa depannya.

Ramin sudah berdiri di trotroar. Ia memandangi patung Slamet Riyadi. Ia seperti patung. Ia tidak menemukan Marni. Apalagi mengajak Marni menyusuri jalan. Marni tidak hadir. Ramin sudah mengSMS Marni. Tidak ada jawaban dari Marni. Ramin sudah menelpon beberapa kali. Tidak diangkat. Tidak ada respon. Ramin akhirnya memutuskan untuk menunggu. Ramin asyik melihat patung Slamet Riyadi. Adzan dhuhur terdengar nyaring. Ia berdiri sendiri. Adzan ashar, magrib, isya’ terdengar. Ia masih berdiri menanti Marni. Masih berdiri. Menunggu. Orang sekitar tidak memperhatikan. Ia wajar berdiri. Mematung. Ramin masih tegak di trotoar.

Ramin mulai bergerak. Ia berjalan ke alun-alun. Minta makan pedagang bila lapar. Tidur di sudut kios. Tidak mandi. Ia menunggu Marni. Ia miliki bilik cinta untuk Marni. Bilik abadi. Ia ke sana kemari tidak mengerti bahwa Marni bunuh diri sejam setelah ayahnya berhasil dijemput paksa kasus korupsi. “Marni!, Marni...!” teriaknya. Cinta utuh di bilik hati Ramin dan Marni.

Kadipiro, 18 Agustus 2011

Cerpen: Embun Di Daun

EMBUN DI DAUN

Agus Budi Wahyudi

Kotaku penuh bunga, kata-katamu itu. Keharuman nama kotaku adalah keharuman yang sempurna, begitu pula kata batinku. Lengkap sudah julukan itu terpatri dalam diri. Keharuman kotaku, keharumannya menyempurnakan kebahagianku. Ciri lain yang terpancar adalah kota bunga, kota yang memiliki segala keharuman kehidupan. Hari ini irama dingin udara dan desir semilir angin masih hinggapi rumah Mia. Aku tidak jadi memotong daun bunga yang rimbun di halaman rumahnya. Menurutku, agak kukurangi rimbun pohon itu, agar taman tidak menawarkan gelap saat matahari sempurna bersinar.

Aku harus membawa Mia ke Semarang. Mia harus segera meninggalkan kota ini, rumah ini. Mia harus menghapus segala peristiwa yang terbentang di kota bunga ini. Mia sebagai putri ayu, sebagai istri Aryo harus kubawa pulang ke Semarang. Mia sudah setuju rencana keluarga seperti itu. Mia sudah memahami rencana keluarga memang baik untuknya. Mia sudah agak baik kesehatan jiwa dan kesehatan tubuhnya.

“Mia, sebaiknya kau masuk rumah saja. Udara masih dingin. Tidak baik untuk tubuhmu.” Aku menganjurkan kepada Mia agar menakar kesehatannya saat itu. Ia pun sadar apa yang aku katakana padanya.

“Iya, Om.” Suaranya lirih. Ia berangsur masuk ke rumah. Terlihat lampu ruang tamu dinyalakannya. Ia baca majalah. Kebiasaan baca yang menurutku baik. Baik bagi perkembangan jiwanya, baik bagi kesehatannya. Ia memang butuh istirahat. Ia memang butuh ketenangan. Kematian anak pertamanya, membuat kejut di jiwanya. Untung ia bisa agak menyirnakan kedukaan itu.

Aku di taman tidak jadi memangkas daun bunga. Bunga kertas warna merah, putih, kuning menyala-nyala. Aku melihat warna bunga itu untuk kesekian kali. Mia di ruang tamu asyik membaca. Aku menunggu perkembangan kondisinya. Hari ini di taman aku sendiri. Daun bunga yang masih terselimuti embun menggugah tanganku untuk menyentuhnya. Aku mengusap lembut embun di daun bunga. Seandainya, seandainya tidak terjadi peristiwa itu, Mia tentu saja bisa langsung kuajak pulang.

Rencana besuk pagi juga bisa. Mia tidak usah memikirkan rumah besar ini. Kita berdua pulang ke semarang. Mia agak berat meninggalkan rumah ini. Taman bunga yang indah, halaman belakang tempat kolam renang terbentang, ikan-ikan berenang di kanan-kiri kolam utama memang menyuguhkan pemandangan asri rumah ini.

Mia harus berduka. Kehilangan Arini anak pertama. Arini hilang entah ke mana. Arini waktu sekolah diantar Yu Suli tidak pulang sampai sekarang. Yu Suli agak teledor terhadap tugasnya. Arini diculik orang. Kembali ditemukan sudah menjadi mayat di selokan. Arini dibunuh penculik dengan kekerasan. Kejam betul perilaku penculik itu. Mia tidak tahu. Masalah di balik peristiwa itu. Terungkap, setelah seminggu, dendam pasangan selingkuh suaminya. Suaminya di luar rumah seperti serigala. Santap gadis sana, santap gadis sini. Ada yang terdera oleh tingkah suaminya itu. Para gadis yang terlunta akhirnya nekad menyandera Arini. Arini diakhiri dengan sadis. Aryo tidak memahami semua itu. Aryo tetap aryo yang tidak mengubah tingkah.

Arini anak pertama sudah hilang dari rumah. Sebulan yang lalu, peristiwa penguburan sudah dilakukan. Mia kembali sendiri meniti hari. Mia tidak bisa seperti ini hidup di rumah besar tanpa ditemani Arini.

“Mas Aryo!”

“Iya… ada apa?”

“Mas Ar harus tahu diri dong! Masak sudah belasan gadis kau lalap dan kau santap seperti itu! Tahu diri dong. Aku sebagai istri apa tidak becus melayani Mas?!”

“Dik Mia… sabarlah… Ini semua bukan maksudku untuk membuat semua ini jadi begini.” Aryo mencoba berkomunikasi sadar dengan Mia. Percecokan terjadi. Percecokanlah yang terjadi bila keduanya bertemu. Telinga Yu Suli sering merekam percecokan itu. Akhir percecokan Aryo masuk kamar, bawa pakaian dan pergi. Entah ke mana, Yu Suli tidak bisa memahami perilaku suami Mia seperti itu.

Mia sebagai istri Aryo sudah tidak bisa lagi membendung tabiat perilaku Aryo. Lelaki jalang memang tidak bisa dikekang. Lelaki buaya darat tidak bisa diikat dengan aturan apa pun. Mia sudah tahu tabiat suaminya itu. Mia hanya lebih mengedepankan buah cintanya dulu dengan Aryo/ wujud Arini menjadi pematri bagi keutuhan keluarga yang dibangun. Mia menyadari bahwa ada suami yang telah memberikan anak, Arini. Bagi Mia tidak usah memiliki Aryo secara mutlak. Aryo biar sebagai petualang cinta. Aryo biar sebagai suami penghias saja.

Mia harus meninggalkan rumah ini. Mia harus menikmati kehidupannya sendiri tidak di rumah ini. Rumah ini telah menghanccurkan semua masa depannya. Aku sebagai paman Mia tidak lebih ingin memindahkan lembaran hidupnya. Dari kota Bandung ke kota Semarang yang berhawa panas. Dari kebekuan kota hujan ke kehangatan ibu kota Jawa Tengah. Mia akhirnya bisa mengerti semuanya. Mia bisa merenda kembali kehidupannya. Mia bersuami Partono di Semarang. Aku memahami bahwa semua ini harus terjadi. Tentang Aryo, tidak usah disesali. Aryo dihukum mati seumur hidup. Aryo sudah terbui. Aku dengar kabar Aryo sudah dieksekusi hukuman mati. Aryo telah menghabisi dua gadis dari delapan gadis yang menjadi pasangan selingkuhnya. Dua gadis itu dimutilasi. Aryo melakukan itu semua dengan sadar.

Partono dan Mia menikah di KUA. Partono memberikan mas kawin setengah ons emas putih. Partono merasa puas dengan peristiwa ini. Partono, teman sekelas Mia sudah lama menantikan perkawinan ini. Sahabat sejati bisa menjadi pendamping setia. Namun, harus melalui liku-liku sebelumnya.

Taman halaman rumah sepi. Aku sadar harus pulang. Sekarang. Aku mengemasi semua pakaian yang tadi malam kujejer rapi di ranjang. Aku harus pulang. Sadar bahwa ini mendadak kulakukan. Acara di kota ini belum selesai semua. Namun, aku harus bisa meninggalkan kota ini tidak boleh keburu sore atau malam hari.

Aku merapikan penampilanku. Aku telepon taksi. Aku naik ke mobil warna coklat muda itu menuju stasiun. Stasiun masih sepi. Aku masuk menunggu di peron. Tidak lama kereta jurusan Semarang siap. Aku naik ke gerbong urutan kedua. Mia di sampingku bisa tersenyum. Mia menerima kepulangan ini dengan ria. Aku merasakan kembali tanganku yang mengusap embun daun bunga di taman, di rumahnya, di Bandung pagi itu.

Taman halaman rumah Semarang sepi. Mia duduk di kursi taman sambil membaca majalah Kartini. Aku menangkap wajahnya beraura ria. Kulihat tanganku tidak ada basah embun duka dari rumah Mia di Bandungr. Kota Semarang menjadi harapan baru bagi Mia. Mia tahu tentang itu. Aku sudah menyusun rencana pertemuan dengan Partono. Partono teman waktu SMA yang kini pengusaha ukiran kaca.

Kadipiro, 4 Agustus 2008

Drs. Agus Budi Wahyudi, M.Hum.

Staf pengajar PBSID FKIP UMS

SEKUBU DENGAN HATI BEKU

kadang ketidakpastian itulah yang kita unduh di hari ini.
kadang ketidaktulusan itulah yang kita panen di hari ini.
kadang ketidaktahuan itulah yang kita pilih di hari ini.
kadang ketidakmampuan itulah yang kita hias di hari ini.
kadang ketidakjujuran itulah yang kita pajang di hari ini.
kadang ketidaknyamanan itulah yang kita teriakkan di hari ini.
kadang ketidakbahagiaan itulah yang kita rasakan di hari ini.
kadang ketidakcukupan itulah yang kita keluhkan di hari ini.
kadang ketidakikhlasan itulah yang kita pamerkan di hari ini.
kadang ketidakbisaan itulah yang kita tuliskan di hari ini.
kadang ketidaksempurnaan itulah kenyataan hidup hari ini.

sekubu dengan hati beku
sebuku dengan hati beku
setuju dengan hati beku
kadang, lebih baik mencair daripada menyia-nyiakan hidup hari ini.

Apabila Anda kini sedang berstatus sebagai pelajar, apakah Anda ingin menguasai ilmu? Ataukah Anda ingin menyelesaikan studi Anda?

PUISIKU

puas

di awal kita jadi puas
di tengah kita jadi puas
di akhiri kita jadi buas

ujung kepuasan di awal pertemuan
rasa kepuasan di tengah persahabatan
akhir kepuasan bisa jadi kebuasan langkah

janjilah dengan diri sendiri
untuk melangkah dengan hati
untuk merasakan dengan rapi jati diri

KATA DAN KATA DAN KATA: SEKATA, BERKATA, KATANYA

kata bisa menjadi senjata
kata bisa menjadi sahabat
kata bisa menjadi pedang
kata bisa menjadi sayap
kata bisa menjadi jati diri
kata bisa menjadi cermin
kata bisa menjadi ada
kata bisa menjadi sirna
kata bisa menjadi bermakna
kata bisa menjadi semangat
kata bisa menjadi baik
kata bisa menjadi tentram
beradalah dalam kata

bisakah, kata berteman kata, bisa
bisakah, kata berdamping kata, bisa
bisakah, kata bersatu kata, bisa
bisakah, kata berseteru kata, bisa
bisa, bisa, bisa, kata, kata, kata

kata, kata, kata
bertemu
berdamping
dalam satu tujuan
membangunkan diri
membangunkan siapa saja

PUISI

Lumpur Lapindo



Sayang, kemana tumbuh daun pohon?

lumpur terhampar menampar sadar

lumpur tersembur mencakar cakrawala

lumpur terlalu liar mengusir tubuh



Sayang, kemana tumbuh tulang daun?

lumpur memberontak gemuruh

lumpur mendobrak seluruh

lumpur mengobrak abrik tubuh



Sayang, kemana benih pohon tumbuh?

lahan lumpur panas mengganas

lahan lumpur panas membakar

lahan lumpur panas menggilas

lahan lumpur panas mengakar

lahan lumpur panas membuas



Saang, kemana benih jati diri tersemai?







Selamat Datang: Mahasiswa Yang Sedang Bergulat dengan Ilmu Bunyi.

Belajar bunyi itu asyik
belajar bunyi itu menarik
bunyi itu bisa diproduksi oleh diri
bunyi itu bisa didengarkan oleh diri
bunyi diri bisa diolah menjadi dunia
bunyi diri bisa didengar oleh penghuni dunia

Fonetik memberi bekal Anda mengenal lebih dekat bahasa manusia.

Apakah Anda tidak punya kesulitan dalam mendeskripsikan bunyi vokal bahasa Indonesia?

Apakah Anda tidak punya kesulitan dalam mendeskripsikan bunyi konsonan bahasa Indonesia?

Apakah Anda sudah menghafal deskripsi bunyi bahasa?
Apakah Anda sudah hafal?
Apakah Anda siap mempertanggungjawabkan di depan Saya?

Sabtu, 29 Mei 2011
Tim pengabdian pbsid-fkip-ums melibatkan mahasiswa, terjun ke lokasi pengabdian SMA Negeri Sumberlawang.
Agus BW, Laili, Saeful, Istiana. Majalah Sekolah jadi fokus pengabdian pada siswa.

romantis

romantis, mengapa tidak?

REMAJA BISA JADI TIDAK SEKSI

BISA DISEMPATKAN MEMBACA